Jakarta - Satu lagi aparat penegak hukum kena batunya. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menangkap Jaksa Kejari Cibinong, Sistoyo, saat melakukan praktik suap terkait penanganan perkara. Bagaimana pihak Kejaksaan Tinggi Jabar sebagai lembaga yang membawahi Kejari Cibinong menyikapinya?

"Kalau soal kecolongan atau tidak, namanya juga manusia ada lupa, khilaf. Walau sudah berulang kali diingatkan berkali-kali nyatanya tetap saja berbuat seperti itu (korupsi)," kata Kepala Kajati Jabar Yuswa Effendi Basri, Kamis (25/11)malam.

Saat dirinya menjabat sebagai Kajati Jabar, berulang kali mengamanatkan kepada setiap jaksa yang ada di wilayah satuan kerja agar menjauhi praktik-praktik yang dapat mencoreng citra Korps Adhyaksa.

"Konsekuensi yang harus diterima tidak bisa ditawar-tawar lagi, yaitu dari mulai penonaktifan sampai dicopot dari jabatannya," tegas Yuswa.

Menyikapi dugaan suap Kejari Cibinong, Kejati Jabar tidak tinggal diam. Yuswa mengaku telah mengirimkan tim khusus guna menyelidiki kasus tersebut.

"Laporan sudah kita buat dan sudah dikirimkan ke Jamwas," tuturnya.

Sebelumnya KPK menangkap jaksa Sistoyo saat kedapatan menerima uang senilai Rp 99,9 juta di mobilnya pada Senin (21/11) petang. Sitoyo memperoleh uang itu dari seorang bernama Anton Bambang, orang suruhan Edward.

KPK menahan Sistoyo di Rutan Polda Metro Jaya. Sedangkan Edward dan Anton Bambang yang juga telah ditetapkan sebagai tersangka ditahan di Rutan Cipinang.

Edward adalah terdakwa kasus pemalsuan surat terkait pembangunan Pasar Festival di Cisarua, Bogor. Kajari Cibinong menunjuk Jaksa Sistoyo sebagai Jaksa Pertama dalam penanganan kasus ini. Sistoyo sendiri dibantu Jaksa Kedua, Eviyati. Operasi tangkap tangan terjadi sehari sebelum dibacakannya surat penuntutan di persidangan.(dtc)